Selasa, 21 Februari 2012 13:02 WIB
Tes Drive Mazda MX-5
Mazda MX-5, Roadster Harian untuk Pemula

Jakarta – Saat
melihat sosoknya yang ceper dan bermoncong panjang, tak terbayangkan
jika roadster Mazda MX-5 mudah membelah kemacetan dalam kota.
Nyatanya pendapat tersebut salah. Karena Mazda MX-5 justru bisa dibilang sebagai roadster pemula yang menyajikan banyak kemudahan berkendara, termasuk di kemacetan.
Yup, untuk masuk ke dalam kabin roadster tipe hardtop ini, posisi badan wajib menunduk karena ruang atap yang rendah. Tapi kalau atap convertible-nya dibuka, tentu tak perlu menunduk.
Didalam kabin, badan Otomotifnet.com langsung dibekap jok semi bucket dari Recaro. Terasa kurang nyaman bagi pengguna berbadan extralarge. Untungnya, ruang kabin yang sempit sedikit terobati dengan space kaki luas.

Posisi duduk yang rendah juga mempengaruhi sudut pandang
pengemudi. Enaknya sudut pandang MX-5 tak terlalu mendem, seperti
sportscar kebanyakan. Sehingga ujung kap mesin masih terpantau.Hasilnya
feeling mengemudi tak beda jauh seperti kita membawa hatchback kompak
semacam Yaris atau Jazz.
Semakin nyaman, sistem audio dikawal merek ternama, Bose yang menyemburkan tata suara kelas wahid di dalam kabin. Tetapi kelemahan muncul dari banyaknya blindspot yang tak dapat terpantau karena lekuk bodi. Blindspot itu juga hadir berkat bentuk spion-nya yang terbilang kecil.
Raungan mesin MZR 2.0L In-line 4 silinder, 16 valve S-VT terdengar berwibawa, namun masih dalam batas sopan dan tidak mengintimidasi pengguna jalan lain. Tarikan awal terasa lembut, tak ada semburan tenaga berlebihan.
Selepas kemacetan kota, tak sah jika belum mencicipi tenaga 160 dk mobil seharga Rp 591 juta ini secara optimal. Untuk itu, MX-5 dibawa menuju Tangerang via Tol Merak.

Dengan
kondisi jalan cukup lengang, mobil dua penumpang ini mampu dikebut
sampai 160 km/jam. Akselerasinya didukung dengan transmisi 6-Speed
Direct Activematic dengan Active Adaptive Shift yang memiliki
perpindahan gigi halus.
Sayangnya permukaan jalan tol yang bergelombang membuat Otomotifnet.com harus puas dengan kecepatan yang ‘lumayan’ itu.
Kesimpulannya, MX-5 cocok untuk jadi ‘sahabat’ sehari-hari. Dengan kemudahan mengemudi serta taburan fitur asik, MX-5 bisa diandalkan buat nongkrong ataupun bepergian ke luar kota. Tapi… Tentu saja rute 3 in 1 di Jakarta wajib dihindari, karena kabin MX-5 hanya muat dua penumpang. (mobil.otomotifnet.com)
Nyatanya pendapat tersebut salah. Karena Mazda MX-5 justru bisa dibilang sebagai roadster pemula yang menyajikan banyak kemudahan berkendara, termasuk di kemacetan.
Yup, untuk masuk ke dalam kabin roadster tipe hardtop ini, posisi badan wajib menunduk karena ruang atap yang rendah. Tapi kalau atap convertible-nya dibuka, tentu tak perlu menunduk.
Didalam kabin, badan Otomotifnet.com langsung dibekap jok semi bucket dari Recaro. Terasa kurang nyaman bagi pengguna berbadan extralarge. Untungnya, ruang kabin yang sempit sedikit terobati dengan space kaki luas.

Semakin nyaman, sistem audio dikawal merek ternama, Bose yang menyemburkan tata suara kelas wahid di dalam kabin. Tetapi kelemahan muncul dari banyaknya blindspot yang tak dapat terpantau karena lekuk bodi. Blindspot itu juga hadir berkat bentuk spion-nya yang terbilang kecil.
Raungan mesin MZR 2.0L In-line 4 silinder, 16 valve S-VT terdengar berwibawa, namun masih dalam batas sopan dan tidak mengintimidasi pengguna jalan lain. Tarikan awal terasa lembut, tak ada semburan tenaga berlebihan.
Selepas kemacetan kota, tak sah jika belum mencicipi tenaga 160 dk mobil seharga Rp 591 juta ini secara optimal. Untuk itu, MX-5 dibawa menuju Tangerang via Tol Merak.

Sayangnya permukaan jalan tol yang bergelombang membuat Otomotifnet.com harus puas dengan kecepatan yang ‘lumayan’ itu.
Kesimpulannya, MX-5 cocok untuk jadi ‘sahabat’ sehari-hari. Dengan kemudahan mengemudi serta taburan fitur asik, MX-5 bisa diandalkan buat nongkrong ataupun bepergian ke luar kota. Tapi… Tentu saja rute 3 in 1 di Jakarta wajib dihindari, karena kabin MX-5 hanya muat dua penumpang. (mobil.otomotifnet.com)
Penulis : Ilham | Teks Editor : Bagja | Fotografer : Ilham

